Minggu, 10 November 2013

Faktor-Faktor Keberhasilan Penyelengaraan OTOP Thailand: Pemanfaatan konsep kawasan komoditas unggulan pada koperasi pertanian

Review Jurnal 2
PEMANFAATAN KONSEP KAWASAN KOMODITAS UNGGULAN PADA KOPERASI PERTANIAN
Burhanuddin
(Peneliti Utama pada Deputi Pengkajian Sumberdaya UKMK)
INFOKOP VOLUME 16 – SEPTEMBER 2008 : 143-154

III.                   Faktor-Faktor Keberhasilan Penyelengaraan OTOP Thailand   
 3.1            Unsur-Unsur Penentu (determinant factors)
1)      Kesesuaian potensi sumberdaya alam yang mendukung munculnya produk unggulan dari suatu daerah yang memiliki daya saing sehingga membentuk ciri khusus di dalam pasar manca Negara (brand image). Konsep ini berhasil memotivasi produsen (UKM atau petani) sehingga muncul rasa bangga dalam menghasilkan komoditas tertentu yang menggunakan simbol, jargon, dll.
2)      Potensi SDM dalam kelompok-kelompok masyarakat memiliki modal dasar yaitu keterampilan, etos kerja dan semangat kerjasama. Hal ini terbentuk dengan adanya penyediaan dana pelatihan, konsultasi, dan pendampingan untuk pengembangan SDM. Pelatihan diberikan secara gratis dengan format hands-on practice yang berkesinambungan. Bentuk pembinaan diintegrasikan dengan kredit lunak.
3)      Pemerintah mendirikan Kantor Promosi UKM (OSMEP), Lembaga Pengembangan UKM (ISMED) dan mengubah institusi Usaha Keuangan Industri Kecil menjadi Bank Pembangunan UKM Thailand (SMED Bank of Thailand). Di samping itu digalakkan promosi dan pameran yang diprakarsai oleh Otoritas Pariwisata Thailand (Tourism Authority of Thailand) dan Badan Investasi (Board of Investment). Semuanya untuk memperkuat posisi tawar, menangkap peluang pasar dan penetrasi pasar baru.
4)      Dukungan permodalan yang memadai dalam bentuk kredit (suku bunga ringan tanpa agunan fisik tetapi dengan jaminan satu atau dua orang individu/individual guarantor) dan dana bergulir (revolving fund) untuk pengembangan industri rumah tangga dan kerajinan tangan. Kriteria penerima kredit antara lain: a) pernah mengikuti pelatihan atau pernah menerima bantuan pemasaran, proses produksi, pengembangan produk, praktek usaha; b) usaha yang ditekuni dinilai layak mendapatkan kredit; c) memiliki asset senilai maksimal 10 juta baht; d) menggunakan kerja paling banyak 50 orang tenaga kerja.
5)      Pemerintah memfasilitasi masyarakat dengan berbagai piranti teknologi, seperti tersedianya situs/website sebagai sumber informasi elektronik untuk keperluan perdagangan (e-commerce).
6)      Adanya dukungan dan kordinasi yang solid diantara institusi pemerintah yang dilangsungkan dengan gaya CEO (chief executive officer). Program OTOP lahir dari kebijakan dan strategi yang diterapkan pemerintah dan perkembangannya terus dipantau, dievaluasi serta diperbaharui melalui berbagai instrumen kebijakan untuk mencapai tingkat keberhasilan optimal. Tidak kurang dari 25 instansi pemerintah dan 12 Kementerian Negara Koperasi dan UKM terlibat untuk mengembangkan program ini.
7)      Konsistensi perencanaan pembangunan ekonomi yang berbasis masyarakat dan dilaksanakan secara bertahap. Arah pembangunan ekonomi adalah melepaskan diri dari keterpurukan ekonomi dan penanggulangan kemiskinan. Strategi pembangunan pedesaan disusun dengan melibatkan tiga komponen yang berkepentingan yaitu pemerintah, swasta, dan LSM/organisasi lokal lainnya (cluster development).
8)      Keberpihakan kepada Pengusaha Ekonomi Lemah dan Menengah dan menempatkan peran sektor UKM sebagai tulang punggung perekonomian dalam negeri.
9)      Koordinasi yang baik diantara para pelaku pembangunan yang ditopang oleh kepemimpinan (leadership) dan adanya control masyarakat secara langsung atas berbagai program pembangunan. Komunitas petani/produsen dan pengusaha lokal berperan aktif dalam memilih dan menetapkan komoditas unggulan setempat.
10)  Adanya Patron Client yaitu Raja Thailand (Bhumibol Adulyadej) sebagai rujukan karena kharismanya, dihormati dan menjadi panutan semua lapisan masyarakat.
3.2       Penetapan Komoditas Unggulan OTOP
Sejauh ini program OTOP telah memilih dan menetapkan enam kelompok besar komoditas unggulan dengan tidak kurang dari 10 jenis produk dalam setiap kelompok. Sebagian besar produk telah memiliki segmen dan pangsa pasar (market share) tersendiri, baik di dalam maupun di luar negeri. Ciri khas produk yang tetap dipertahankan adalah adanya peran serta pengusaha-pengusaha kecil dan menengah yang berasal dari pedesaan setempat. Kumpulan komoditas unggulan tersebut diantaranya dapat dicermati dalam tabel 1.
Tabel 1. Pengelompokan Produk Unggulan OTOP
No
Kelompok jenis produk
Cakupan Kelompok Jenis Produk
1
Makanan
Beras, buah-buahan kering, rosela, biji-bijian manisan, selai pisang, pisang kering, madu, gurame goreng, ikan kering, baso ikan, telur, berbagai jenis kripik, dll.
2
Tekstil,
bahan kain dan pakaian
Aneka jenis kain sutera dan batik, tas tangan dari daun palma, aneka macam hiasan berukir dari bahan seng/kaleng, tembaga, dan metal lainnya
3
Kerajinan tangan dan
Souvenirs
Bunga tiruan (artificial flowers), kertas dari serat nenas, tas tangan dari daun palma, aneka macam hiasan berukir dari bahan seng/kaleng, tembaga, dan metal lainnya.
4
Minuman
Kopi, teh, susu, jus buah-buahan, air mineral, dan anggur (wine).
5
Hiasan (ornaments)
Bingkai foto, keranjang bambu, tas tangan dari bahan lokal : rami, pandan, dsbnya.
6
Tanaman obat /rempah
Berbagai produk perawatan wajah dan tubuh
termasuk bedak, minyak, sampo, dsbnya.
            Sumber : Makalah Sahat M. Pasaribu, 2007
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, (2000). Pendekatan Sentra Kluster dalam Mengembangkan UKM. Kementerian Koperasi dan UKM. Jakarta.
Anonymous, (2007). Notulen Hasil Diskusi One Tambon One Product, di Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Jakarta 7 Mei 2007.
Burhanuddin R., (2006). Perwilayahan Komoditas Kecamatan Muara Bengkal, Kabupaten Kutai Timur. Kerjasama CV. Asiplant, Bontang, Kalimantan Timur.
Pasaribu, Sahat M., (2007). Program OTOP Thailand dan Tantangan Pengembangan Usaha Mikro, Usaha Kecil, dan Menengah. Makalah Diskusi One Tambon One Product, di Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Jakarta 7 Mei 2007.
Tambunan, Mangara dan Ubaidillah, (2003). Pasar Global, Apakah Ancaman atau Tantangan Bagi UKM ?, dalam Ekonomi Kerakyatan dalam Kancah Globalisasi. Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar